Bagaimana Milenial & Digital Mengubah Klub Bola

Sudah hari Jumat dan nyaris melewatkan pekan ini tanpa postingan satu pun ðŸ˜

Jadi apa kabarnya tuh tekad nulis dua hari sekali, hah? HAH?? ðŸ˜¤

Anyway... Sebelumnya saya mau mengucapkan TURUT BERDUKA CITA untuk musibah Tsunami Selat Sunda yang terjadi tanggal 22 Desember lalu. Semoga mereka yang berpulang ditempatkan di tempat terbaik, dan saudara-saudara kita para penyintas bisa segera pulih.

Aamiin.

Padahal di malam yang sama musibahnya terjadi saya lagi hepi karena Manchester United akhirnya bisa menang dengan jumlah gol yang WOW setelah sekian lama anyep terus. 

5 - 1, Sobb!

Emang sih lawan Cardif aja, tapi sebelum-sebelumnya lawan tim papan bawah juga ManUtd mainnya kek kancut kok. Jadi ini kayanya sih peningkatan, apalagi setelahnya lawan Huddersfield juga berhasil menang 3 - 1. 

Bolehlaah kita ngarep banyak... 😁

Nah, soal ManUtd ini yang mau saya obrolin. Harus diakui kalau saya bukan penggila bola. Dari jaman sekolah dulu juga mau main bola kalo lagi pengen aja, yang mana jarang banget.

Tapi kalau nonton highlight pertandingan saya lumayan suka, apalagi kalau yang main ManUtd, tim favorit sejak zamannya duet Andy Cole dan Dwight Yorke (yahh, katauan deh umurnya ðŸ˜…)


Sempet bosan nonton ManUtd di beberapa tahun terakhir masa kepelatihan Sir Alex, karena menang mulu, tapi abis itu jadi suka lagi karena masa-masa kegelapan perjuangan setelah pensiunnya Sir Alex Ferguson kembali seru untuk diperhatikan.

Nah, yang harus diperhatikan sebetulnya mulai dari awal Premier League musim ini. ManUtd yang sebelumnya finish di urutan kedua musim lalu memulai liga kali ini dengan prestasi yang jeblok!

Banyak spekulasi soal penyebabnya, dan salah satu yang paling santer tentu peran Jose Mourinho sebagai pelatih, yang nggak oke membawa pemain menampilkan performa terbaiknya.

Yahh, bukan rahasia umum juga sih soal gesekannya sama Paul Pogba, dan beberapa pemain lain. Terus kondisinya semakin memburuk sampai akhirnya dia harus diganti oleh caretaker atau pelatih sementara sampai akhir musim.

Ole Gunnar Solskjaer sebagai caretaker membawa harapan baru (yang mana sebetulnya selalu terjadi setiap pergantian pelatih) dan Alhamdulillahnya berhasil menjawabnya dengan prestasi.

Lalu pertanyaannya, apa hubungannya sama judul post di atas...? ðŸ™ƒ

Pertama yang harus kita pahami kalau klub sepakbola itu adalah sebuah bisnis. Bisnis pertunjukan kalau boleh dibilang.

Dan seperti halnya sebuah bisnis pada umumnya, tujuannya adalah mencari profit. Lalu dari mana profit bagi sebuah klub? 

Banyak. Mari kita simplifikasi...

Semakin prestatif sebuah klub, semakin banyak penggemarnya. Dan jumlah penggemar yang banyak tentu berbanding lurus dengan penjualan merchandise.

Check! Profit didapat dari penjualan mercandise ✔

Semakin jago dan bertaburan bintang sebuah klub, semakin banyak yang mau melihatnya bertanding. Tentu berpengaruh pada penjualan tiket saat mereka berlaga.

Check! Profit didapat dari penjualan tiket ✔

Semakin banyak yang mau menonton maka televisi pasti mau menayangkannya dan pihak-pihak tertentu mau menitipkan brandnya di jersey mereka, secara yang nonton sudah miliaran pasang mata.

Double check! Profit didapat dari penjualan hak siar dan sponsorship ✔

Sudah kebayang kan kalau prestasi itu penting buat mendulang profit? 🙂

Nah, balik ke soal perseteruan Mourinho dengan Pogba... Btw videonya ternyata ada di yutup, dan bisa kamu lihat di bawah ini, Sob 




Saya nggak tahu yah, tapi pengelompokan angkatan dengan generasi milenial sebagai sorotan ini kayanya lagi hype banget ðŸ˜„

Di kantor istri sampe ada grup Gen Y yang khusus mengelompokan staf-staf dari rentang usia angkatan milenial. Tujuannya mungkin buat menggali inovasi yang memang jadi keunggulan generasi ini, tapi gak tahu deh, kayanya gak ngaruh-ngaruh amat kalo yang ketok palu masih yang tua-tua aja... ðŸ˜

Nah... Entah bener atau ngga, tapi kalo saya perhatikan tren generasi milenial ini juga ada di pesepakbola. 

Kalo dulu pemain angkatan Alessandro Del Piero, Roberto Baggio, atau Eric Cantona, tiap bikin salah dan didamprat pelatih besoknya mereka akan ngegas di sesi latihan dan pertandingan. Buat menunjukan penyesalan dan memperbaiki kesalahan.

Kalo sekarang pemain justru ngambek dan posting di socmed ðŸ˜

Parahnya lagi mereka punya followers yang cenderung menjadi fanbase. Sehingga mendukung apapun keluhan idolanya. Ditambah jumlah yang luar biasa banyak dan... cerewet di media sosial ðŸ˜„

Nah kombinasi maut antara pemain yang ngambek dan pressure yang masif bikin menejemen akhirnya memecat Jose Mourinho dan mengganti pelatih asal Portugis itu. Apakah ini jadi solusi?

Hmm... Mungkin iya kalau lihat hasilnya di dua pertandingan terakhir. Tapi bisa jadi juga nggak.

Pasalnya jadi ada nilai-nilai yang bergeser dengan kondisi kaya gini sih.

Di buku Autobiografi Sir Alex Ferguson pernah bilang kalau nggak boleh ada yang merasa lebih tinggi dari tim!

Se-famous dan berpengaruh apa pun pemain, prestasinya ditentukan dari performanya di lapangan dan sumbangsihnya ke tim. Kalau macem-macem dan nggak nurut dengan kebijakan pelatih, yaa out!

Kaya yang terjadi sama David Beckham. Kapan-kapan saya post sekaligus review autobiografinya Sir Alex ya ðŸ˜‰

Semua ini sih opini asal-asalan saya aja yah, bisa jadi malah oversimplifikasi. Tapi yaa, selamat datang di era dimana bahkan anak kecil dari negara dunia ketiga bisa ngebego-begoin pelatih sekelas Mourinho... ðŸ˜„

Postingan terkait:

Belum ada tanggapan untuk "Bagaimana Milenial & Digital Mengubah Klub Bola"

Post a Comment