Apa Yang Dilihat Investor Dari Startup


Saya baru selesai baca buku Investing In Digital Startups, dan sebagai pemerhati (sekaligus pelaku) bisnis digital, buku ini ngasih insight banyak banget karena ditulis dari sudut pandang investor.

Kalo kamu Founder Startup atau sedang mengupayakan masuknya investasi untuk mendanai ide bisnismu yang sudah siap dieksekusi, buku ini bisa jadi semacam bocoran alus biar bisa ngintip pola pikir dan mindset investor. Jadi pitch deck yang kamu buat bisa disesuaikan sama keinginan mereka, mehehehehe... 😁

Nah sesuai judul, yang mana judul lengkapnya adalah Apa Yang Dilihat Investor Dari Startup Yang Belum Ketahuan Gimana Monetasinya Tapi Justru Diincar Investor Dengan Nilai Besar (panjang, Sooobb! 😝), di post ini saya kasih bocoran apa alasannya.

Tapi sebentar...

Emang ada ya startup yang dibuat tapi si Founder belum tahu gimana cara monetasi atau mendapat keuntungan dari bisnisnya?

Well, ada. Google salah satunya!

Jadi di bulan September 1998, Google mendapat suntikan dana dari Andy Bechtolsheim. Pendiri Sun Microsystem yang dianggap rockstar oleh para penggila IT di masa itu. Nominalnya lumayan edan, $ 100.000! Padahal Larry dan Sergey belum punya rencana bisnis.

Jadi jangankan tahu gimana mau monetizingnya, lah rencana bisnis aja belum ada. Yang mereka berdua tawarkan cuma mesin pencari yang lebih baik dan akurat. Karena di dekade '90-an, mesin pencari yang ada sangat mudah untuk di-hack sama pemilik situs bokep. 

Jadi kalo kita ketik kata kunci Tempat Nongkrong di Jakarta, yang nongol justru situs macem Jakarta XXX dot com, Jakarta Underground dot com, Jakarta Night Life dot com, Jak ... (okay, I better stop!), sedangkan info beneran soal tempat hangoutnya justru baru muncul di halaman 5 dan seterusnya.

Bete, kan?! 😕

Anyway, time goes dan Google dengan cepat masuk ke jajaran mesin pencari papan atas di jagat internet. Berdampingan sama Yahoo, Bing, dll. Tapi yaa di tahun-tahun awal Google cuma mantab alias makan tabungan karena belum punya pemasukan yang signifikan.

Nah baru di tahun kelima mereka kenal dengan sistem CPC atau Cost Per Click yang memungkinkan mereka dapet uwit dari orang yang numpang ngiklan. Dan berkembanglah Google Adwords seperti yang kita kenal sekarang 😉

Pertanyaannya kenapa Andy mau menaruh uangnya di bisnis yang belum kelihatan untungnya di mana. Lah kalau nggak salah bahkan Google sendiri belum berdiri. Karena Larry Page dan Sergey Brin cuma modal situs dengan domain google dot com! 😅

Nah jawabannya adalah...

...karena...

setelah pesan-pesan ini!

daya rusak atau disrupsi! 😊

Silahkan gugling soal disrupsi, dan niscaya akan cukup banyak tulisan soal itu yang ditulis Pak Rhenald Kasali. Mudahnya disrupsi itu adalah perubahan yang fundamental dan mendasar. Seperti mencabut tanaman sampai ke akar-akarnya, yang hasilnya selain perubahan adalah kerusakan.

Kerusakan apa? Tentunya sistem yang sudah lebih dulu ada.

Sebuah startup kalau punya potensi merusak sistem yang ada endingnya (untuk dimonetasi) bisa ditebak :
  1. Dapat untung dari tren baru yang diciptakan
  2. Dijual ke kompetitor yang merasa terancam

Oh, ada opsi ketiga sih... Dijual ke softbank atau Venture Capitals yang mau bikin kerusakan yang lebih parah sebelum...

dijual dengan harga jauuuuh lebih mahal 😂

Contohnya gimana, Van?

Mmh, yang sudah jelas dan terasa banget sih ya Gojek versus angkutan konvensional ya. Kapan-kapan saya bahas juga deh soal angkutan konvensional (dan pemerintah) yang salah menyikapi ancaman usaha di era digital ini. Kapan-kapan yaa... 😊

Oya, selain itu juga ada startup-startup fintech atau financial technology, yang sudah pasti mengancam bank konvensional dengan bisnisnya yang telah jalan bertahun-tahun.

Jadi intinya para startup ini ngasih kemudahan buat konsumen dan masyarakat untuk ngejalanin hidup dengan lebih mudah dan asyik, yang mana merupakan ancaman buat sistem yang sudah ada. Kita sebagai konsumen mah seneng-seneng aja kalau semua urusan bisa dipermudah. 

Lagi laper tapi mager tinggal order makanan dari hape. Mau transfer uang antar bank gak perlu ke atm bahkan, bisa via aplikasi yang malah tanpa biaya transfer. Pengen beli tiket pesawat mendadak cukup buka aplikasi, dan dijembrengin lah semua jadwal dari berbagai maskapai dengan beragam harga. 

Jadi bukan Gojek yang matiin angkutan lainnya, kepastian tarif dan waktu tempuh lah penyebabnya...

Bukan Youtube, Netflix dan layanan konten online lain yang mengancam TV, opsi tontonan dan kepraktisan nonton di mana aja dan kapan aja yang jadi musababnya...

Bukan Airbnb yang menggerus keuntungan hotel & penginapan. Kepastian harga yang lebih bersaing lah gara-garanya.

Dan investor yang visioner pasti bisa melihat hal itu bahkan ketika startup yang dimaksud masih berbentuk proposal 🙂

Dalam kasus Google, mereka bahkan bisa menggeser Yahoo jauh sebagai mesin pencari nomer wahid dan lebih dulu ada. 

Dan tahu gak berapa nilai investasi Andy Bachtolsheim sekarang?

Beberapa tahun lalu di Bloomberg sih diinfokan kalo valuasi sahamnya sudah $ 2 milyar. Nggak tahu berapa persisnya sekarang 🙃

Jadi pada prinsipnya investor-investor ini nyari startup dengan model preman pasar... yang ngacak-ngacak dagangan orang, jual barang sendiri, terus minta pedagang lainnya bayar uang keamanan kalo mau tenang jualan 😝

Nah, kamu udah punya ide startup belum, Sob? Kuy lah, eksekusi kalo udah 😉

Postingan terkait:

2 Tanggapan untuk "Apa Yang Dilihat Investor Dari Startup"

  1. Hmmm menarik nih, diobrak abrik gaya lama menjadi gaya baru yg lebih praktis dan menarik ya. Oke noted..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya Mba... Tapi harus yang genuine dan bener-bener baru di dalam sistem yang udah ada sih. Nyari celahnya itu yang mikir banget, he he he :D

      Delete