Tentang Resolusi, Fasilitas, dan Tujuan

Yeayy... Akhirnya postingan terbaru di awal tahun 2018!

Hehehe, telat banget gak kalo hari gini baru bilang Selamat Tahun Baru 2018 ?

Yahh, telat-gak telat yang pasti semoga tahun ini jadi tahun yang lebih baik buat kita semua ya, Sobat Muda. Semoga rencana-rencana yang ditargetkan di tahun ini tercapai, dan bisa menjadikan diri kita pribadi yang jauuuhh lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya.

Ada 'Amin', Saudara-saudara...? :)

Anyway, biasanya di awal tahun yang baru kita suka bikin resolusi ala ala, yang entah kenapa kalau lewat dari bulan Januari belum ada satu pun yang tercapai biasanya suka bikin kendor mental buat ngelanjutin ngejar yang lain-lainnya, hi hi hi...

Iya, gak? At least, I confess, saya sih gitu... :p

Dan kemungkinan kedua kenapa cukup sering resolusi kita gagal terwujud adalah karena seringnya kita menuliskan dan membaginya ke banyak orang.

Emang ngaruh?

Ehm, itu juga pertanyaan saya tadinya. Tapi ternyata bener lho, Sob. Menurut penelitian yang dilansir dari NY Mag, GOALS yang diceritakan ke orang lain, meskipun itu orang terdekat kita, secara psikologis akan membuat kita merasa puas dan memberi ilusi bahwa seolah-olah kita sudah mencapainya. Even worse, itu akan menurunkan daya juang kita untuk meraihnya. Padahal yang baru dilakukan baru sekedar merencanakannya saja.

Contoh kasus nih.

Kita pengen bisa lari full marathon sejauh 40 km di tahun ini. Pastinya perlu latihan dong!

Mulailah kita dengan beli sepatu lari yang kece. Posting di socmed. Banyak orang yang muji dan nyemangatin dengan niat kita dan langkah konkrit pertamanya.

Senyum terulas dan hati senang karena merasa banyak yang support.

Lanjut.

Unduh aplikasi pembantu latihan macem endomondo buat bantu latihan. Hari minggu pagi pergi ke senayan untuk mulai lari. Nyalain aplikasi terus mulai lari. Baru satu putaran GBK udah ngos-ngosan, jalan sebentar sambil swafoto sana-sini. Terus posting foto dan track lari di sosial media.

Hati makin berbunga-bunga waktu tahu banyak yang komentar dan muji-muji. Lanjut unggah lebih banyak foto lagi sampe lupa kalo udah makin siang. Akhirnya pulang habis makan ketupat sayur di pintu sembilan GBK.

Minggu depannya gitu lagi dan lagi.

Lah, terus latihannya yang serius kapan? :D

Saya gak tahu kalo kamu ya, Sobat Muda, tapi kalo saya dulunya suka banget ketuker antara fasilitas dan tujuan. Akhirnya ngejar fasilitas dan tujuan akhirnya malah kelupaan.

Bingung?

Maksudnya gini...

Untuk contoh kasus di atas anggaplah bisa lari full marathon itu tujuan, sedangkan beli sepatu, unduh aplikasi, latihan lari pelan-pelan, itu fasilitas. Cuma karena puji sanjung yang bertebaran di sosial media seringkali melenakan akhirnya yang dikejar ya apresiasinya. Nyari banyaknya like dan komen daripada beneran latihannya, he he he...

Untuk kasus yang lainnya juga sama kok.

Coba saya tanya deh. Kuliah di luar negeri itu fasilitas atau tujuan?

Kalo beranggapan itu tujuan, habis selesai kuliahnya mati aja, kan sudah tercapai, hi hi hi hi...

Makanya penting banget buat kita punya tujuan yang jelas, dan alasan yang kuat buat kita mencapainya.

Dan setelah kita punya, tuliskan tapi simpan itu rapat-rapat di tempat yang cuma kita yang bisa akses, yang bisa kita lihat saat semangat kendor dan tenaga terkuras. Bisa di dompet atau di notes pribadi. Asal jangan di selipan kutang aja sih... :p

Jadi, siap buat nge-gas tahun ini? ;)

Comments