Jembatan Kereta Api Maut di Rangkasbitung

Jembatan Kereta Api Maut di Rangkasbitung

Nggak banyak yang tahu kalau ada kisah tentang jembatan kereta api maut di Rangkasbitung. Emang cerita ini sih saya doang yang tahu karena saya yang ngalamin 😄

Anyway... saya keinget cerita ini karena akhir pekan ini Saya ke Rangkas, soalnya adik ipar lagi mau lamaran. Dan pastinya lewat jembatan kereta yang sejajar dengan jembatan yang melintasi di atas kali Ciujung. Jembatan Dua orang situ biasa bilang.

Kejadiannya tahun 2012 waktu saya masih jadi wartawan di Tempo Tv. Saya dan Ito, salah satu kamerawan di kantor ngeliput tentang mobil tawon di daerah Maja yang gak jauh dari Rangkas. Mobil yang sempet ikutan famous karena ikutan hype mobil esemka di Solo waktu itu (entah gimana nasibnya itu mobil tawon, ga ada kabarnya 😅)

Karena nanggung udah liputan ke luar kota, kita cari-cari lagi berita yang bisa diangkat, biar gak pulang cuma bawa satu paket. Dan kebetulan di Rangkasbitung waktu itu lagi ada banjir gara-gara hujan lebat yang menyebabkan longsor di tepi kali Ciujung, maka meluncurlah kita memburu berita.

Sampai jembatan, sudah banyak kendaraan yang parkir di pinggir jalan mulai dari kendaraan pemadam sampai LSM yang memberikan bantuan. Sedap, dapet berita seru nih!

Nah, karena kita ga ada persiapan apa pun, saya minta Ito ambil gambar di sekitar kali dan jembatan sambil saya ngobrol sama ketua RW untuk menggali informasi.

Sekira 30 menit saya ngobrol sama Pak RW dan beberapa narasumber lain. Waktu saya rasa sudah waktunya buat wawancara on cam, saya justru nggak lihat Ito di mana-mana. Kebiasaan banget ini anak!

Sewot, saya tanya ke salah satu warga.

"Kang, lihat temen saya ga?

"Hah?"

"Temen saya. Yang bawa kamera tadi. Lihat gak?!" Saya mengeraskan suara yang tenggelam deru kereta yang lewat jembatan.

"Oh, nggak, Mas."

Sambil sebel saya lanjut ngobrol sama Pak RW untuk mengulur waktu. Baru 15 menit kemudian Ito muncul sambil tergesa-gesa dan menyerahkan kamera.

"Nih, lo aja yang ambil gambar."

Lah, apa-apaan nih bocah? Ngilang ga ketauan juntrungannya, balik-balik gak mau kerja!

"Ogah! Buruan ditungguin dari tadi juga mau wawancara lo!"

Ito pun men-setting kamera dengan tangan gemetar. Meski heran saya urung bertanya untuk mempersingkat waktu, soalnya Pak RW sudah mau cabut.

Nggak sampai 10 menit wawancara selesai. Ito terduduk di pinggir trotoar setelah Pak RW pamit untuk pergi.

"Lo kenapa sih? Tadi juga dari mana?"

"Gue ambil gambar sungai dari situ," Ito menunjuk jembatan kereta. "Ketengah-tengahnya."

Saya mangap karena mulai bisa ambil kesimpulan dari ceritanya. "Terus?"

"Kirain gue jembatannya udah nggak aktif. Nah pas gue di tengah situ..."

"Kereta lewat?!" Yang dijawab anggukan lemah Ito yang masih agak pias. "Terus kok gak mati lo?"

Pertanyaan yang agak tendensius sih, harus diakui.

"Gue gelantungan sampe keretanya lewat."

Masya Allah......... 😅 😅 😅

Dilema antara rasa bersalah karena udah sewot sebelumnya dan visualisasi dia gelantungan buat menghindari maut bikin saya salah tingkah. Dan ujung-ujungnya malah ketawa.

"Dih... Tega lo!" Giliran dia yang sewot.

"Lah, ini ketawa support loh..." Ito manyun 😝

Dan jalan takdir yang nggak ketebak justru bikin saya berjodoh sama orang Rangkas, yang mana tiap beberapa minggu sekali  buat ke rumah orang tua saya lewat Jembatan Dua.

Jembatan kereta api maut... kalo menurut Ito 😆

Comments